Hadden Irving Clark, Sosok Cross-Dressing Yang Sakit Mental, Kejam,Kanibal dan Pembunuh Berantai

  

RizzkaStory.my.id - Hadden Irving Clark lahir dan dibesarkan di Troy, New York  pada Juli 1952. Dia adalah seorang pencabut nyawa, nekrofil, dan kanibal. yang  menjalani dua hukuman 30 tahun penjara atas penghilangan nyawa anak kecil berusia 6 tahun dan seorang wanita berusia 23 tahun dan 10 tahun penjara karena tindakan pencurian.

Siapakah Hadden ?


Hadden Irving Clark

Hadden adalah anak kedua dari empat bersaudara, saudaranya bernama Bradley lahir pada tahun 1950, Geoffrey lahir pada tahun 1955 dan Alison anak perempuan satu-satunya lahir pada tahun 1959. Mereka lari keluarga kaya, terhormat dan berpendidikan tinggi. Ibunya bernama Flavia keturunan pahlawan dari perang Revolusi hingga ke pelayaran Mayflower sedangkan ayahnya bernama Hadden Senior mempunyai gelar MBA dan PhD di bidang kimia, ia ikut membantu penemuan pembungkus plastik yang dapat merekat dan karpet tahan api, sementara kakek dari ayah adalah walikota terpilih dari Partai Republik di White Plains.


Meskipun mendapat pendidikan yang tinggi, namun Anak-anak mereka menjadi problematik.  Geoffrey terlibat dalam KDRT dan pelecehan kepada istrinya, hingga akhirnya diberi hukuman percobaan. Bradley bisnisman di bidang komputer adalah anak yang tidak bisa diatur, alkoholik dan pengguna narkoba. Dia menghabisi nyawa rekan kerja sekaligus pacarnya Patricia Mak, 29 tahun pada tahun 1984, dia mencekik dan memutilasi badannya menjadi 11 bagian dan mengkonsumsinya dengan memanggang payudaranya. Bradley lalu menyerahkan diri dan dijatuhi hukuman 15 tahun Penjara Negara Bagian Pleasant Valley di California.


Vonis atas Bradley menjadi salah satu alasan depresi ibunya hingga Flavia tidak ingin berhubungan lagi dengan keturunannya. Sementara Alison, ia melarikan diri dari rumah ketika remaja dan kemudian memutuskan hubungan dengan orang tuanya, dan mengatakan kepada seorang penyelidik, “Saya tidak pernah memiliki keluarga.”


Suatu hari, ketika Geoffrey kecelakan dari sepeda hingga berdarah-darah oleh Hadden, dengan polosnya Hadden hanya berkata pada ibunya :

“Telah terjadi kecelakaan,” katanya kepada ibunya, ”tapi jangan khawatir sepedanya tidak apa-apa.” Dia tidak menyebutkan luka-luka yang diderita saudaranya sama sekali.

Flavia ibunya sempat menyalahkan proses persalinan Hadden atas kelakuan buruk anaknya, padahal tidak ada bukti bahwa Hadden memiliki keterbelakangan mental, bahkan Hadden cenderung pintar


Flavia      


                                                     Hadden dan Ayahnya Hadden Senior



Sepertinya salah satu pemicu anak-anak Flavia dan Hadden Senior sulit diatur adalah karena kebiasaan alkoholik mereka dan sikap abusive mereka pada anak-anak. Bahkan jika mabuk Flavia akan menyuruh Hadden memakai pakaian anak perempuan dan memanggilnya Kristen, karena ketika Hadden lahir  Flavia berharap bayi perempuan,  sementara ayahnya suka memukul Hadden dan memanggil Hadden Retard “Dungu”


Hal itu benar-benar membentuk pribadi aneh, pendendam dan tidak stabil pada Hadden, dia suka mengutil pakaian dalam wanita untuk dipakai. Hadden yang suka dibully akan dendam pada pembullynya, caranya balas dendam dengan menghabisi binantang peliharaan pembullynya lalu memutilasi badan hewan itu dan memajang hewan itu di rumah pembully. Dia tidak menolerir kesalahan siapapun sekecil apapun.


ilustrasi Culinary Institute of America di Hyde Park

Hadden disekolahkan ke sekolah koki oleh ibunya agar mempunyai keahlian, di Culinary Institute of America di Hyde Park, New York, dia lulus dengan berbagai insiden seperti mengencingi satu tong kentang tumbuk. Pekerjaannya di berbagai tempat tidak pernah lama, dia sering memancing keonaran, seperti secara terang-terangan meminum darah sapi. Hadden pernah bekerja sebagai koki di Cape Cod. Dia pernah mengakui penghilangan nyawa terhadap perempuan dan menguburnya di bukit pasir dan menggunakan jari-jarinya sebagai umpan pancing ikan.


Karir Angkatan Laut Hadden

ilustrasi Angkatan Laut Amerika

Ketika Karir koki Hadden meredup dia masuk Angkatan laut Amerika, Hadden Clark melakukan tugas selama satu tahun di kapal pesiar S/S Norway, pekerjaan di ruang perjamuan Long Island, dan penugasan selama tiga minggu di Olimpiade 1980 di Lake Placid, New York. Hadden Clark memegang 14 pekerjaan yang berbeda antara tahun 1974 dan 1982.


Selama bekerja di Angkatan Laut AS sebagai koki di bawah dek Hadden kepergok sering mengenakan celana dalam wanita berenda di balik seragamnya. Dia dipukuli karena itu, pernah juga dia dikurung di dalam lemari pendingin daging selama tiga jam. Angkatan Laut mencoba memindahkannya ke kapal baru tetapi terjadi insiden. Hadden sampai mengalami gegar otak karena kepalanya terbentur dek kapal induk, Hadden dibebastugaskan secara medis, didiagnosa sebagai penderita skizofrenia paranoid. Dia diberi resep tapi  tidak pernah diminum. Dia tidak peduli.


Hadden jadi luntang lantung dan akhirnya tinggal dengan saudaranya yang bernama Geoffrey beserta pacar dan anaknya Eliza (nama samaran). Karena perilaku anehnya melakukan masturbate di depan anak-anak di rumah Geoffrey, dia akhirnya diminta keluar dari rumah oleh Geoffrey. Dan hari itu, 31 Mei 1986  di siang yang panas 92 fahrenheit atau 33,3 celcius Hadden pria 35 tahun dengan tinggi 6,2 kaki atau 188 cm berkemas, dia bersandar sejenak dimobil pickup datsunnya.


Lalu sebelum dia sempat masuk lagi untuk ambil barang terakhir datang anak kecil, oh... ternyata itu Michelle, tetangga dekat, teman Eliza yang berusia 6 tahun. Seketika Hadden ingat keponakannya Eliza pernah mengatainya Retard atau Dungu seperti ayahnya dulu yang membuat dia dendam parah pada keponakannya. Melihat Michelle dia merasa ada tempat untuk balas dendam. Apalagi rumah Geoffrey sedang kosong.


    Awal Pembunuhan


       Michele menghampiri rumah Geoffrey untuk mencari Eliza, dia melihat Hadden dan menanyakan kepada Hadden “Di mana Eliza?”

Hadden berkata “Dia ada di dalam rumah. Di lantai atas di kamarnya sedang bermain boneka. kamu bisa masuk ke dalam jika kamu mau.”


Michelle Lee Dorr, 6 Tahun

    

           Melissa langsung masuk dan menaiki tangga ke kamar atas, Hadden buru-buru ke truk datsunnya dan mengambil kotak pisau miliknya yang sudah dia asah sampe tajam sekali, di dalamnya ada berbagai pisau koki dan dia mengambil pisau sepanjang 12 inch atau sekitar 30cm. Lalu menyusul Michelle ke kamar atas. Diatas, Hadden langsung mengeksekusi Michelle, menebaskan pisau itu ke leher Michelle hingga Michelle tidak bisa bernafas dan menebaskan lagi menyilang berkali-kali ke dada Michelle hingga membentuk huruf Z seperti Zorro dan menancapkan pisau itu ke tenggorokan Michelle, ketika Michelle melakukan perlawanan dengan menggigit tangan Hadden.


       Hadden sempat ingin merudapaksa Jasad michelle tapi tidak berhasil, dia langsung membereskan darah yang menggenang di sudut lantai yang miring dan membungkus Michelle dengan kantong keresek dari dapur dan ransel Angkatan Laut miliknya. Hadden memasukan jasad ke belakang truknya dan langsung melaju ke tempat kerjanya di country club Chevy Chase sebagai koki. Dia harus sampai 20 menit lagi tidak boleh terlambat.

 

        Michelle Lenyap


            Sementara dua pintu dari rumah tempat Michelle dieksekusi di rumah Geoffrey,  ayah Michelle yaitu Carl Dorr mencari Michelle, sebelumnya memang dia meninggalkan Michelle main di luar di kolam plastic sementara Carl menonton balapan Indianapolis 500, dia yakin Michelle aman karena Sudley Road di Silver Spring Marylang adalah lingkungan yang aman. Ibunya Michelle, Dorothy memang sudah tidak lagi bersama dengan Carl. Carl dan Dorothy sedang proses cerai dan hubungan mereka tidak baik. Carl yang punya dua gelar yaitu Ekonomi dan Psikologi belum mapan dan kasar pada istrinya.


Dorothy, Michelle dan Carl 

            Carl pernah mengancam pada Dorothy jika dipersidangan hak asuh anak nanti dia akan bilang pada hakim bahwa Dorothy ibu yang buruk dan pezina dan jika Carl kalah dia akan menculik Michelle di halte bus sekolah.


            Tanpa Carl ketahui, Michelle bosan main sendirian dan mencari Eliza temannya. Ketika tersadar Michelle tidak ada, Carl berkeliling mencari Michelle tapi tidak menemukan Michelle. Sekitar pukul 17.30 dia menghampiri rumah Geoffrey menanyakan Michelle kepada Eliza, namun mereka tidak tahu menahu kemana Michelle. Haddenpun sudah tidak ada di rumah. Carl lalu mengitari lingkungan sekitar dengan mobilnya tapi Michelle tetap tidak kelihatan, akhirnya Carl melaporkan hilangnya Michelle ke Polisi.


            Bukannya simpati, Polisi malah mencurigai Carl, apalagi ketika Polisi menelusuri ke Dorothy dan Dorothy menceritakan hubungan mereka. Dorothy menceritakan bahwa Carl mengancam penculikan, yang pernah diucapkan dan kemungkinan carl menghindari biaya tunjangan anak $400 jika dia kalah dalam hak asuh anak. Polisi makin yakin Carl pelakunya. Apalagi di tes kebohongan awal Carl tidak lolos. Carl terus menjalani interogasi berkali-kali dan tes kobohongan lagi, yang mana kali ini dia lolos. Polisi memang belum bisa menangkap Carl karena belum cukup bukti.


            Sayangnya dalam interogasi ternyata Carl berbohong soal waktu terakhir dia mengecek Michelle karena takut dianggap mengabaikan anak. Dia mengaku terakhir melihat Michelle pukul 14.10 padahal sebetulnya Carl terakhir mengecek Michelle di tengah hari atau sekitar pukul 12 siang.


        Hadden menyembunyikan Jasad Michelle

 

            Hari itu, setelah bekerja di restoran, Hadden langsung menuju old Columbia Pike, daerah hutan. Dia menepi di bahu jalan dan sambil menggendong jasad Michelle, sekop dan senter, dia masuk ke hutan,menggali tanah sedalam1,2 meter dan mengubur Michelle. Lalu kembali kekamar sewaannya yang baru yang berjarak 5 mil dari rumah Geoffrey.


            Di sisi lain seorang Detective Wayne Farrell ingat seseorang ketika dia menyusuri Jalan Sudbury setelah Michelle hilang, saat dia mencari-cari petunjuk dan menemukan Hadden Clark di jalan masuk rumah saudaranya, sedang mengutak-atik mesin truknya.

“Apakah Anda di sini kemarin?” tanya polisi itu kepadanya.

“Sekitar dua atau tiga menit,” jawab Hadden.


            Karena profil Hadden cukup mencurigakan, akhirnya dia dipanggil ke kepolisian esoknya. Hadden menepati janjinya untuk datang. Hadden diinterogasi dengan santai, ditanyai peliharaan kelincinya di rumah Geoffrey dan kemudian menanyakan anak-anak di lingkungan rumah Geoffrey. Hadden menceritakan dia pernah ditendang di buah zakarnya oleh seorang anak laki-laki dan  dia juga mengaku pernah menjepit anak perempuan dengan main-main ke tanah.


            Detective Garvey lalu menanyai : "Apakah itu yang Anda lakukan dengan Michelle?” sambil mengeluarkan foto gadis kecil itu, Hadden mulai bergoyang-goyang di kursinya. Air mata muncul dan dia tidak mau melihat foto itu.

“Apakah itu yang Anda lakukan dengan Michele?” Garvey bertanya lagi.

Hadden berkilah : “Saya merasa mual. Apakah Anda memiliki kamar mandi?” tanyanya. Dia masuk ke kamar mandi kantor polisi dan mulai muntah dengan keras ke dalam toilet. Polisi berada tepat di belakangnya.

 

“Apa yang kamu lakukan?” Garvey berteriak ke dalam bilik toilet. “Orang tua perlu tahu. Katakan apa yang terjadi. Mereka harus menguburkan anak mereka. Apakah itu kecelakaan? Mari kita bicarakan.”

Hadden menjawab dengan muntah dengan keras. Sambil terus muntah ke dalam toilet, Garvey menyelipkan foto Michele Dorr di bawah pintu toilet.

“Apa yang kamu lakukan?”

Hadden membuat pengakuan yang kemudian dipandang sebagai pengakuan ambigu.

“Saya tidak tahu,” katanya di sela-sela tarikan napas. “Saya mungkin telah melakukan sesuatu. Kadang-kadang saya pingsan dan melakukan hal-hal yang tidak saya ingat.”

 

            Polisi belum menangkap Hadden karena bukti belum kuat, padahal mereka sudah dekat. Apalagi Carl membuat alibi Hadden sempurna dengan berbohong soal waktu. Hadden mengatakan ia pergi kerja pukul 14.46, sementara Clark mengaku melihat Melissa terakhir pukul 14.10 siang. Sepertinya tidak mungkin kalau Hadden menghilangkan nyawa atau menculik seseorang, lalu membuang atau menyembunyikan mayatnya dan kemudian pergi bekerja yang jaraknya hampir 10 mil jauhnya dalam jangka waktu seperti itu.


            Karena kebohongan Carl, Hadden Clark akan pergi untuk beraksi lagi. Sedangkan untuk Michele Dorr, masih perlu 14 tahun lagi hingga misteri kematiannya terpecahkan dan jasadnya ditemukan.


          Hadden Makin Tidak Terkendali


            Hadden bebas dari tuduhan karena tidak ada bukti dan alibi. Dia mulai lebih tidak trerkendali.di tahun 1988 dia mengebut dan ketika polisi memeriksanya, di temukan senapan astra caliber 38. Dia juga pernah ditangkap karena pengrusakan property pemilik lahan tempat sewa lahan untuk truknya. Motifnya sama, menghabisi nyawa binatang peliharaan, merusak barang dan mencuri.


Hadden sedang Cross-Dressing

                 Hadden bahkan pernah mencuri di rumah ibunya di Rhode Island, membuat ibunya marah. Tahu apa reaksi Hadden ketika dimarahi? Dia mencoba menabrak ibunya dengan truk, syukurnya si Ibu berhasil menghindar. Flavia makin emosi dan tidak ingin mengenal Hadden sebelum Hadden mengobati dirinya.


              Hadden  juga pernah di diagnosa dokter rumah sakit veteran dengan kondisi mentalnya adalah psikosis dengan etiologi yang dipertanyakan. Dia menyatakan bahwa "Burung dan tupai berbicara dengannya dan menemaninya ... dia terkadang menangis dengan ledakan kemarahan dan kegelisahan yang terputus-putus ... dia berpotensi membahayakan dirinya sendiri melalui penilaian yang buruk dan perilaku yang merugikan diri sendiri.”. Bahkan hadden merasa dia punya kepribadian ganda "Saya tidak suka menyakiti orang lain, tetapi saya melakukan hal-hal yang tidak saya sadari.”


            Tahun 1989 dia berulah lagi dengan dakwaan krimial 15 pencurian, salah satunya mencuri di gereja dengan menyamar sebagai wanita. Pada hari ditangkap, ditemukan wig wanita, gaun wanita mantel dan dompet wanita juga sarung pistol. Hadden akhirnya ditangkap dan didakwa hanya 45 hari, saat itu hakim Rockville, Maryland, Irma S. Raker beralasan masalah mental yang serius yang diidap Hadden. Pembelanya bahkan bersimpati pada Hadden padahal ga tau aja dia orang yang sangat jahat. Pembelanya Donald Salzman membuat memo khusus untuk Hadden jika dia pernah ditangkap lagi agar polisi menghubunginya, karena Hadden punya masalah mental. Wooowww.

 

        Laura Houghteling Sayang Laura Malang


Laura Houghteling


            Laura Houghteling adalah anak supel, pintar dan manis, dia bersekolah di Harvard. Ibunya Penny Houghteling tinggal di Bethesda Maryland, sekitar 10 mil dari tempat Hadden mengabisi Michelle pada tahun 1986. Penny orang yang dermawan dan baik hati, dia mengenal Hadden di sebuah organisasi gereja, ia mengira Hadden tunawisma, orang baik dan cekatan, Penny kemudian mempekerjakan Hadden di kebun rumahnya. Tidak lama bekerja dirumah Penny, Hadden diperbolehkan masuk ke dapur untuk membuat kopi tanpa minta izin dulu.


            Meski Penny baik pada Hadden tapi tidak membuat Hadden berhenti untuk mencuri kalung milik Penny untuk dia pakai tanpa Penny mencurigainya, bahkan Penny mencurigai orang lain.

Nahas bagi Laura, ketika Laura pulang pada musim panas tahun 1992, setelah lulus dari Harvard. Penny sebagai ibu yang rindu mencurahkan kasih sayangnya kepada Laura, anehnya hal ini membuat Hadden cemburu, karena merasa perhatian Penny terlah dicuri Laura. Hadden merencanakan balas dendam.


        Recana Hadden dijalankan ketika pada pertengahan oktober Penny memberitahu Hadden bahwa dia akan pergi selama seminggu, yaitu tanggal 17 hingga 25 Oktober. Esoknya Hadden langsung membeli alat perangkat keras untuk menjalankan balas dendamnya kepada Laura. Malam itu 17 Oktober, Penny tidak ada di rumah, Laura baru pulang dari acara pacuan kuda di Middleburg Virginia, dia pulang lebih cepat, dan tidur pada pukul sepuluh malam, sebelum tidur Laura mengunci rumah.


        Tengah malam Hadden memarkir truknya di samping rumah Penny, mengendap-ngendap ke kebun dan mengambil kunci rumah cadangan. Dia pakai wig wanita, dalaman wanita, blus dan celana panjang Penny, juga memakai mantel parit yang di dalamnya ada senapan caliber 22. Dia senggol Laura dengan senapan itu agar laura bangun, hadden berkata :

“Mengapa kamu ada di tempat tidurku?” tanya Hadden.

Laura tidak tahu bagaimana menjawabnya.

 “Apa yang kamu lakukan di tempat tidurku?” tanya Hadden lagi.

 Pertanyaannya tidak masuk akal bagi Laura.

 “Mengapa kamu memakai pakaianku?” Hadden bertanya lagi.

 Air mata jatuh dari mata Laura dan membasahi pipinya.

 “Katakan padaku bahwa aku adalah Laura,” perintah Hadden.

 “Kau Laura. Tolong jangan sakiti aku.” Laura berkata sambil takut setengah mati.

 

                Laura dipaksa bersumpah diatas Alkitab bahwa Haddenlah Laura yang sebenarnya. Lalu meminta Laura melepas pakaian dan mandi. Laura lalu diminta telungkup di kasur. Rencananya Laura akan diperkenalkan dengan “Hadden” di hutan. Dengan mulut dan mata dilakban membuat Laura hampir tidak bisa bernafas hingga pingsan. Saat pingsan,  selotip laura dilepas menggunakan gunting dan karena ceroboh gunting itu mengenai leher Laura yang menyebabkan leher Laura terluka dan berdarah, tak cukup disitu, Hadden mengambil anting-anting Laura secara paksa, bahkan salah satu bagian bawah telinga Laura diamputasi untuk mengambil antingnya itu. Laura meninggal. Hadden sempat meraba-raba bagian tubuh Laura.


            Pukul 3 pagi laura dibungkus dengan sprei dan diboyong ke truk. Sprei, alas kasur, sarung bantal yang bernoda cairan mera Hadden bawa ke truknya bersama beberapa piala, cincin SMA, unicorn kristal dan barang-barang pribadi lainnya. Kemudian dia berbaring dan tidur ditempat dia mengeksekusi Laura.

Pukul 8 dengan menggunakan wig dan atribut wanita Hadden pergi meninggalkan rumah Penny, seseorang mengira itu adalah Laura yang meninggalkan rumah. Dengan jasad Laura disamping di dalam truk, Hadden kembali tidur di truknya yang terparkir di sudut gereja dua blok dari rumah Penny.


        Laura Tak Akan Kembali 


            Sementara itu Boss Laura menelepon ke rumah, Laura tidak menjawab, ini tidak biasa ketika Laura tidak mengabari kalau tidak akan kerja. Karena khawatir, dia mengirim seseorang ke rumah untuk melihat-lihat. Teman laura mengebel pintu dan tidak ada jawab. Karena khawatir, ia menelepon saudara laki-laki Laura, Warren Houghteling dan mulai menelepon teman-temannya. Saat itu dirasa belum perlu untuk menghubungi polisi.


Laura dan Warren kakaknya

                  Setelah menggeledah rumah tersebut, Warren Houghteling jalan ke arah halte bus, dia melihat Hadden dengan truk pick upnya. Dengan polosnya, Warren melambaikan tangan pada Hadden untuk bertanya apakah tukang kebun keluarga tersebut mengetahui keberadaan adiknya. Awalnya Hadden menepi, tetapi dia berubah pikiran dan melesat pergi. Warren menganggap perilaku tersebut agak aneh, tapi Hadden memang aneh pikir Warren. Malam harinya dia menelepon polisi dan ibunya. Polisi mengatakan kepadanya untuk tidak khawatir. Laura kemungkinan akan segera muncul, kata mereka.


               Setelah bertemu Warren Hadden merasa ketakutan. Dia berkendara ke sebuah tempat di Interstate-270, tepat di seberang jalan raya dari tempat perkemahan terakhirnya. Hanya 20 kaki dari jalan dia menggali hingga menemukan sebuah kuburan dangkal. Dia menguburkan jasad Laura ke dalamnya.


Menangkap Iblis


            Setelah menguburkan Laura Houghteling, Hadden Clark ke utara menuju New England. Di Rhode Island, dia memasukkan seprai berdarah, alas kasur, dan barang-barang yang dia curi dari Laura ke dalam loker penyimpanan mandiri yang dia sewa per tahun. Dia tetap menyimpan sarung bantal. Dengan begitu dia bisa mengenang kembali malam itu, setelah kejadian beberapa kali, Hadden  mencium aroma sarung bantal itu, bahkan ketika setelah Polisi memanggilnya.


            Saat penyelidikan hilangnya Laura, polisi Montgomery County, Maryland memanggil Hadden. Karena Warren dan Penny telah menyebutkan namanya saat diinterogasi. Dan ketika deskripsi Hadden ditelepon ke kantor pusat, lonceng peringatan berbunyi. Bukankah dia dicurigai dalam kasus hilangnya Michele Dorr? Penny Houghteling yang masih percaya Hadden, menepis tuduhan itu.

“Hadden tidak akan menyakiti siapa pun. Dia hanya seorang tukang kebun,” katanya.


            Polisi punya ide lain. Atasan Mike Garvey, Robert Phillips, dipanggil dan dia ingat cerita Garvey tentang Hadden yang muntah di kamar mandi dan alibinya. Ketika dia ditanya apakah akan membawa Hadden atau tidak, Phillips langsung setuju.

“Hadden Clark! Tentu saja! Ayo! Ayo kita tangkap dia! Bajingan itu berhasil lolos sekali!” teriaknya di telepon. Polisi menghubungi nomor hadden dan dia datang keesokan harinya bersama Sue Snyder kepala kelompok tunawisma setempat.

 

            Pencarian Laura & Penemuan Sarung Bantal Berdarah

 

            Ketika Hadden tiba keesokan harinya, dia diantar oleh Sue Snyder, dia beralibi bahwa dia di dalam truknya malam itu, sedang tidur. Namun ketika dia meninggalkan kantor polisi, dia mulai menangis dan Sue Snyder menanyakan alasannya.

“Saya merasa sangat kasihan pada Penny dan Warren,” kata Hadden.


             Laura tidak kunjung muncul, polisi setempat memutuskan untuk melakukan pencarian menyeluruh di area tersebut. Seekor anjing pelacak membawa mereka ke dalam hutan di dekat rumah Penny yang berbatasan dengan gereja. Di sana, anjing tersebut menemukan salah satu bra Penny, blus wanita, sepatu hak tinggi, dan sarung bantal Laura yang berlumuran darah. Setelah dibawa ke laboratorium, diketahui bahwa darah tersebut memiliki jenis yang sama dengan darah Laura. Polisi beruntung. Ada satu sidik jari pada cairan merah tersebut. Polisi membawa Hadden lagi.


            Saat ditangkap Hadden mempertahankan dirinya dengan berkata “Saya hanya seorang tunawisma, Saya tidak punya teman. Saya akan menganggur setelah ini.”

Selama interogasi, polisi menggertak, tidak ada lagi interogasi santai dan sikap lemah lembut.

Polisi berkata “Kami menemukan sarung bantal di hutan, Ada sidik jari di sana. Sidik jari itu milikmu.”

Sebenarnya mereka sidik jari itu belum diidentifikasi. Mereka berharap ada pengakuan atau sebuah reaksi. Hadden mulai merintih dan air matanya jatuh. Dia menarik kain wol yang dia kenakan untuk menutupi matanya.

Detektive mulai tidak sabar “Apa yang Anda lakukan dengan Laura Houghteling?”

“Saya tidak ingat,” jawab Hadden

Terlepas dari pernyataan ini, polisi kembali melepaskannya. Karena mereka masih tidak memiliki bukti untuk menahannya.


Tempat Hadden Berkemah

                Selanjutnya dengan menggunakan surat perintah penggeledahan, polisi memeriksa rekening bank Hadden dan menemukan salinan bukti pembelian di toko perangkat keras. Mereka juga menemukan lokasi perkemahannya, menggeledahnya, tetapi tidak menemukan Laura.

Kemudian laboratorium mengkonfirmasi bahwa itu adalah sidik jari Hadden di sarung bantal yang berdarah. Dihadapkan dengan bukti-bukti yang sangat banyak, meskipun tidak ada jasadnya, Hadden Clark mengaku bersalah atas penghilangan nyawa tingkat dua dan menerima hukuman 30 tahun penjara pada tahun 1993. Beberapa hari setelah hukumannya, dia membawa polisi, pengacaranya, dan jaksa penuntut ke jasad Laura Houghteling.

 

        Hadden Membocorkan Kejahatan di Sel


            Di penjara, Hadden banyak bacot. Dia sompral menceritakan aksi-aksi penghilangan nyawanya yang telah dilakukannya, memberi tahu para narapidana secara rinci tentang bagaimana dia menghabisi Michele Dorr, Laura, dan yang lainnya. Para narapidana yang membenci pencabut nyawa anak, melihat itu sebagai info yang bisa membuat mereka mendapatkan pembebasan bersyarat lebih awal, mereka lalu menghubungi polisi.


            Pada tahun 1999, dia diadili dua kali. Yang pertama adalah karena mencuri dari keluarga Mahany, yang membuatnya dihukum 10 penjara. Yang kedua, untuk penghilangan nyawa Michele Dorr, di mana beberapa rekan narapidananya bersaksi memberatkannya, yang membuatnya dihukum 30 tahun lagi. Hadden Clark tidak akan pernah melihat kebebasan lagi.

Di persidangan, pengacara pembelanya mencoba menyalahkan Carl Dorr atas meninggalnya Michelle namun gagal. Ada gila-gilanya yah si pengacara ini. Setelah dihukum, Hadden Clark yang gila mengaku kepada seorang narapidana yang dia yakini sebagai Yesus karena kemiripan visualnya, memberitahukan di mana dia menguburkan Michele Dorr. Pada bulan Januari 2000, Hadden membawa mereka ke hutan dan membantu menggali jasad Michele Dorr, hampir 14 tahun setelah dia menghilangkan nyawanya.


Teman Sel Hadden Yang Menurutnya Mirip Jesus


            Hadden Clark meyakinkan tim FBI bahwa dia telah menghilangkan nyawa selusin wanita muda lainnya. Antara bulan Januari dan April 2000, dia dan temannya “Jesus” diantar ke beberapa negara bagian (Massachusetts, Connecticut, New Jersey, Pennsylvania) di mana dia mengaku telah menghilangkan nyawa para wanita muda. Untuk memudahkan pencarian, penegak hukum mengunjungi K-Mart lokal di mana mereka membeli pakaian wanita dan wig untuk dia kenakan saat mereka mencari di bukit-bukit pasir di Cape Cod. Pada akhirnya, pencarian jasad tidak membuahkan hasil, karena sebagian karena lebih dari 20 tahun telah berlalu. Bukit pasir telah bergeser dan lokasi di mana Hadden mengklaim telah menguburkan korban telah tertutup aspal dan sekarang menjadi mal.


            Polisi, dengan bantuan Hadden, menemukan sesuatu di tepi bekas lahan milik kakeknya, mereka menggali sebuah ember besar yang berisi sekitar 200 buah perhiasan wanita. Beberapa di antaranya adalah milik Laura Houghteling. Hadden mengaku telah mengambil perhiasan dari setiap korbannya sebagai cinderamata.

Di dekat bagian atas ember terdapat sebuah peniti dari kayu perak yang sangat indah. Hadden Clark mengatakan kepada para detektif bahwa peniti tersebut adalah “malaikat kematiannya” dan diambil dari korban pertamanya. Dia mengaku memakainya, disematkan pada pakaian Penny, pada malam dia menghabisi Laura Houghteling.

 

            Hadden Clark mungkin tidak akan menghirup udara bebas lagi, tapi karena tindakannya dia telah menghadirkan dan meninggalkan luka di hati para keluarga yang ditinggalkan selamanya. Memang tidak ada jaminan bahwa anak yang lahir di keluarga yang normal tidak akan berbuat menyimpang, namun sebagai keluarga kita hanya bisa berusaha agar orang-orang yang kita cintai selalu ada di jalur yang baik dan tepat agar tidak merugikan orang lain. 

Berikut link youtube dari kisah Hadden :