Long Story : Kisah Pilu Silvya Likens, Kasus Paling Mengerikan Dari Indiapolis Amerika Serikat

Rizzkastory.my.id - Pada 26 Oktober 1965 Polisi Indianapolis Indiana Amerika Serikat menerima telepon yang mengatakan bahwa ada seroang gadis yang meninggal dunia. Panggilan tersebut berasal dari telepon umum di depan POM Bensin Shell di bagian miskin kota Indianapolis, peneleponnya adalah seorang remaja laki-laki. Dia terdengar sangat gugup dan mengarahkan Polisi ke alamat, 3850 East New York Street, tempat di mana gadis yang meninggal itu akan ditemukan.


Korban / Silvya Likens

Penemuan Jasad Sylvia

        Ketika Polisi tiba di rumah tersebut, Polisi mendapati kondisi rumah berdinding papan yang suram dan kumuh tidak terurus. Mereka menemukan jasad kurus Silvya Likens yang berusia 16 tahun. Tubuhnya penuh dengan memar dan luka-luka kecil yang kemudian diketahui sebagai luka bakar akibat sundutan rokok dan korek api yang jumlahnya lebih dari 100 titik. Ada juga luka besar di mana lapisan luar kulitnya terkelupas. Di kulit bawah dada Silvya Likens juga memiliki tanda angka "3". Namun luka yang luar biasa mengerikan, adalah luka sejenis tatto yang tertulis dalam hururf kapital yang telah dibakar langsung ke perutnya "I'M A PROSTITUTE AND PROUD OF IT" atau " SAYA SEORANG PELACUR DAN SAYA BANGGA AKAN HAL ITU".

3850 East New York Street

        Dengan ditemukannya jasad Silvya Likens berakhirlah salah satu kejahatan paling mengerikan yang pernah dilakukan terhadap satu korban, oleh sekelompok remaja dan anak-anak, usia 11 hingga 17 tahun yang dipimpin oleh seorang wanita berusia 36 tahun. Nama wanita itu adalah Gertrude Baniszewski. Korban adalah Silvya Likens seorang anak remaja perempuan yang dititipkan bersama adiknya Jenny Likens kepada Gertrude sementara orang tua mereka bekerja berkililing di karnaval. 

Polisi di TKP

Latar Belakang Gertrude Baniszewski

        Gertrude lahir dengan nama Gertrude Van Fossan yang lahir pada tahun 1928. Dia anak ketiga dari enam bersaudara dari keluarga kelas bawah dan kelas pekerja. Dia dekat dengan ayahnya daripada ibunya. Dia mengalami trauma saat ayahnya yang berusia 50 tahun meninggal karena serangan jantung ketika dia berusia 11 tahun. Perselisihannya dengan ibunya membuatnya malas berada di rumah, dia lalu keluar dari sekolah menengah ketika berusia 16 tahun lalu menikah dengan John Baniszewski yang berusia 18 tahun. 
                                           
                                                     Gertrude dan John Baniszewski

        Setelah penikahannya dengan John, Gertrude hamil beberapa kali. John Baniszewski seorang Polisi suka melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Dalam hubungan keluarga yang toxic itu Gerturde dan John dikaruniai 4 orang anak, yaitu Paula (17 tahun), Stephani (15 tahun), John (12 tahun), Marie (11 tahun).

Paula

Stephani

John Jr.

Marie
      
Setelah bercerai dengan John, tak lama dia menikah lagi dengan pria bernama Edward Guthrie, yang bertahan 3 bulan karena Edward Melarikan diri. Lalu cinta lama bersemi kembali antara Gertrude dan John Banizewski, di pernikahan keduanya ini mereka dikaruniai 2 orang anak, yaitu Shirley (10 Tahun) dan James (8 Tahun), namun berujung perceraian lagi pada tujuh tahun kemudian di tahun 1963.

Sherly

        Cinta Gertrude kemudian berlabuh pada seorang laki-laki muda tukang las yang berusia 23 tahun, sementara Gertrude 36 tahun. Mereka tinggal bersama tanpa pernikahan dan menf\ghasilkan 1 anak yaitu Dennis Junior dan satu kali keguguran. Dennis Lee Wright kemudian pergi melarikan diri dari tanggung jawab.  

Gertrude dan Dennis Lee Wright

        Semua masalah hidup membuat Gertrude kuyu kurus dan tua sebelum waktunya, dia terlihat 2 kali lebih tua dari umurnya. Gertrude menjadi seorang perokok berat, ia juga menderita asma, bronkhitis dan ketegangan syaraf. Gertrude sudah haml 13 kali, 7 bayi terlahir sehat dan 6 kehamlan lainnya keguguran. Penghasilan Gertrude ia dapatkan dari pembayarana tunjangan anak yang tidak menentu dari kedua ayah dari anak-anaknya yaitu John Banizewski dan Dennis Lee Wright. Gertrude juga kadang menerima beberapa dollar dari pekerjaan sampingan seperti menyetrika dan mengasuh bayi. Karena tidak ingin orang tahu bahwa anak bungsunya tidak lahir dari pernikahan yang "sah" dan  dia telah tinggal serumah tanpa pernikahan dengan Dennis Lee Wright, maka ia menyebut dirinya dengan panggilan Mrs. Wright bukan Baniszewski.

Latar Belakang Silvya Likens

       Silvya Marie Likens gadis remaja berusia 16 tahun kelahiran Indianapolis Indiana tanggal 3 Januari 1949. Si anak cantik, periang, humoris dan mandiri, juga lumayan pintar dengan nilai rata2 di sekolah.  Dia senang main sepatu roda, menari dan sangat ngefans sama The Beatles. Orang orang terdekat menjulikinya "cookie". Namun kadang tidak percaya diri ketika tersenyum karena gigi depannya yang tanggal ketika ia berkelahi dengan salah satu saudara laki2 ketika kecil.

Silvya Marie Likens

    Silvya adalah anak ketiga dari lima bersaudara yang lahir dari pasangan seorang ayah Lester Cecil Likens dan ibu Elizabeth Frances Grimes atau Betty. Lester dan Betty memiliki 5 orang anak.

Daniel Likens

Diana Likens

        Anak pertama Lester dan Betty kembar yaitu Daniel dan Diana anak. Anak ketiga adalah Silvya Likens.

Benny Likens

Jenny Likens


        Anak keempat dan kelima Lester dan Betty adalah anak kembar Benny dan Jenny.

Lester Likens dan Betty Likens ketika muda

      Keluarga Likens hidup pas-pasan, Lester dan Betty beberapa kali pisah nyambung. Lester Likens, berpendidikan terakhir kelas delapan. Ia bekerja di berbagai pekerjaan untuk mencari nafkah. Dia pernah menjadi tukang cuci, bekerja di pabrik, dan bahkan pernah memiliki restoran kecil, meskipun sayangnya tidak berhasil. Hingga akhirnya mereka bertahan sebagai pekerja karnaval yang menjual permen, bir, dan soda di stan karnaval di sekitar Indiana sepanjang musim panas.


        Karena pekerjaannya di karnaval mengharuskan Lester dan Betty menitipkan anak perempuan untuk dititpkan ke sanak saudara, seringkali ke neneknya. Sementara untuk anak laki2 dibawa bekerja keliling karnaval.


        Sylvia mencari uang tambahan dengan bekerja serabutan. Dia mengasuh bayi dan menyetrika. Karena pekerjaan orang tuanya, Sylvia sudah berpindah-pindah tempat tinggal 14 alamat. Karena itu  Sylvia sangat dekat dan protective dengan jenny saudara perempuannya yang cacat. 


Silyia Likens dan Jenny Likens Dititipkan Kepada Gertrude Baniszewski

        Di tahun 1965 Betty dan Lester Likens baru saja berpisah untuk kesekian kali. Lalu Betty Likens, bersama putrinya Silvya dan Jenny, pindah ke salah satu rumah kumuh di Indianapolis.  Suatu hari Silvya dan Jenny, bersama Darlene McGuire, sedang berjalan-jalan. Mereka bertemu dengan seorang gadis bernama Paula Baniszewski. Paula adalah anak pertama Gertrude Baniszewski yang berusia tujuh belas tahun. Mereka lalu menuju rumah Paula hingga malam. Silvya dan Jenny akhirnya mereka menginap tanpa izin dulu kepada Betty, karena Betty saat itu sedang dipenjara karena kedapatan mengutil di toko pada 3 Juli 1965.


    Mendengar penangkapan Betty, keesokan harinya, Lester Likens bersama putra sulungnya, Danniel yang berusia sembilan belas tahun, pergi ke rumah mantan istrinya itu untuk menjemput Sylvia dan Jenny. Karena tidak menemukan kedua putrinya di sana, dia mulai mencari di sekitar lingkungan tersebut. Darlene MacGuire memberitahunya bahwa mereka berada di rumah keluarga Gertrude yang lebih dikenal dengan Mrs. Wright.


        Pertemuannya dengan Gertrude menghasilkan kesepakatan, bahwa Silvya dan Jenny akan dititipkan ke Baniszewski dengan bayaran 20 dolar per minggu. Sementara Betty setelah keluar penjara membantu Lester lagi di Karnaval.


        Lester tidak tahu, kalau Gertrude juga kesusahan. Di rumah Gertrude tidak ada kompor, hanya ada kompor listrik, sendok pun hanya ada tiga. Kasur hanya ada 1 untuk ditempati 3 anak dan menjadi 5 anak ketika Silvya dan Jenny masuk kerumah Gertrude. Lester benar-benar tidak tahu bahwa menitipkan Silvya dan Jenny akan menjadi bencana baginya.

    Sebelum pergi, Lester memberi Gertrude beberapa nasihat yang kelak akan sangat disesalinya: "Anda harus menjaga anak-anak ini dengan disiplin dan tegas karena ibu mereka telah membiarkan mereka melakukan apa saja yang mereka inginkan."

Awal Ketegangan

       Minggu pertama anak-anak Likens bersama keluarga Gertrude berlalu normal, mereka bersekolah di Sekolah menengah teknik Arsenal.  Mereka pergi ke Gereja dan berkumpul dirumah itu sambil mendengar piringan hitam. Namun, pada minggu kedua, pembayaran dari orang tua keluarga Likens lambat sampai. Gertrude berteriak kepada penghuni dirumahnya, "Saya merawat kalian berdua tanpa bayaran!" Silyia dan Jenny lalu dipukul di bokong oleh Gertrude. Ternyata bayarannya datang keesokan harinya. Tapi sayangnya episode buruk dalam hidup Likens bersaudara baru saja di mulai. Gertrude terlanjur membenci Silvya dan Jenny.


        Gertrude mulai suka menuduh Silvya mencuri, tidak pernah mandi dan jorok. Kasus pengutilan Ibunya membuat Gertrude menuduh Sylvia dan Jenny suka mengutil juga, walalupun Silvya memang mengaku pernah sekali saja mengutil. Suatu hari Gertrude menuduh Silvya mencuri camilan di toko padahal untuk mendapatkan uang membeli camilan, Silvya mendapatkan uang dari menukar botol-botol kosong bekas. Tuduhan lainnya adalah Gertrude mengatakan bahwa Silyia melakukan sex bebas, hanya karena Silvya periang dan centil. Padahal Gerrude lah yang mengandung di luar nikah sebanyak dua kali dengan Dennis dan anaknya Paula saat itu sedang hamil karena berselingkuh dengan pria beristri.


        Silvya pernah dihukum memakan Hot Dog Frankfurter yang sudah diisi berbagai saus oleh anak-anak Gertrude, hanya karena aduan Paula bahwa SYlvua makan di perhamuan Gereja. Ketika Silvya makan Hot Dog itu dan memuntahkannya, dia tetap harus memakan muntahannya itu. Silvya dan Jenny seakan menerima semua hukuman itu sebagai hal yang wajar sebagai kompensasi atas keterlambatan pembayaran oleh orang tua mereka. Mereka tidak pernah mengadukan itu jika Lester dan Betty datang berkunjung. 

Terabaikan

        Penyiksaan kepada Silyia dan Jenny pernah disaksikan oleh tetangga baru bernama Raymond dan Phyllis Vermillion. Mereka juga memergoki Paula menyiram air panas pada Silvya pada akhir Agustus 1965 ketika mereka datang ke rumah Gertrude untuk menanyakan apakah Gertrude bisa mengasuh anak mereka. Akhirnya  Phyllis Vermillion memutuskan untuk mencari pengasuh anak di tempat lain. Namun sangat disayangkan, dia tidak melaporkan apa yang dia lihat dan dengar kepada pihak berwenang.


        Pada awal Oktober, Vermillion kembali mengunjungi kediaman Gertrude. Dia melihat Paula memukul Silvya dengan ikat pinggang. Saat itu Sylvia terlihat linglung seperti zombie, dan matanya yang hitam dan bibirnya yang bengkak. Sekali lagi Phyllis Vermillion meninggalkan rumah itu tanpa merasa harus melaporkan hal itu ke polisi.


        Silvya dan Jenny merasa tidak mempunya harapan namuan terlalu bingung untuk kabur, walaupun tempat mereka tidur pun jauh dari nyaman. mereka bahkan pernah diikat dan dikunci di ruang bawah tanah. Sylvia jadi lebih protektif terhadap jenny, karena takut jika mereka menceritakan kepada orang lain, akan menyebabkan Gertrude balas dendam dan dilampiaskan pada Jenny.

Penyiksaan Makin Menggila

        Penyiksaan ini terjadi perlahan dan bisa dikatakan terjadi hamper setiap hari dimulai dari mendapatkan hukuman pada bulan Juli, berlangsung hingga  bulan Agustus dan September, hingga penyiksaan yang paling kejam di beberapa minggu terakhir di bulan Oktober.


        Sekitar akhir bulan Agustus, Silvya pernah ditendang diselangkangan oleh Gertrude hanya karena Silvya berpacaran dan diperparah oleh Paula yang menjatuhkan Silyia ke lantai. Hingga dalam otopsi menunjukkan bahwa area kemaluan Silvya dianiaya secara mengerikan.


        Rupanya sebagai balas dendam, Silvya mengatakan kepada beberapa teman sekolahnya bahwa dua anak perempuan tertua Baniszewski, Stephanie dan Paula, adalah "pelacur". Pacar Stephanie yang berusia lima belas tahun, Coy Hubbard, mendengar hal ini, menjadi marah, dan memukuli Silyia, sambil ditemani Gertrude. Gertrude menghasut seorang anak bernama Anna Siscoe bahwa Silvya menjelek-jelekan ibunya, tanpa memastikan, Anna langsung menyerang Silvya, tanpa Silvya bisa melawan.


        Paula Baniszewski yang berperangai kejam memiliki hobi memukul kepala Silyia dengan apa saja yang ada di sekitarnya, entah itu piring, botol, atau kaleng. Jenny Likens juga sering kali disuruh ikut menyiksa Sylvia oleh sekelompok anak-anak tetangga. Jenny menolak dengan takut, namun Gertrude yang marah menampar wajah Jenny. Memaksa Jenny, Jenny memukul Sylvia menggunakan tangan kirinya, bukan tangan kanannya (dia tidak kidal) sehingga tidak terlalu menyakiti Sylvia.

Pelecehan

    Pada awal Oktober, karena Gertrude mendapati Silvya memakai seragam olah raga, padahal Gertrude tahu Silvya tidak punya dan permintaan Silvya untuk membeli seragam itu  ditolak mentah-mentah oleh Gertrude, maka ketika Silyia pulang memakai seragam itu dan mengatakan bahwa seragam itu dia temukan di suatu tempat, Gertrude tidak percaya lalu menyiksa Silvya, mencambuknya dengan ikat pinggang sampai akhirnya Silvya mengaku bahwa ia telah mencuri seragam itu.


        Lalu tanpa alasan Gerturde mengalihkan topik pembicaraan tentang pencurian seragam ke masalah pergaulan bebas. Silvya mulai ditendang selangkangannya. Di kemudian hari, karena masih belum puas hukuman atas pencurian seragam, Gertrude melanjutkan hukumannya, dia menyulut korek api ke "jari-jari lengket" Silyia dan memberinya cambukan lagi.

        Penyiksaan kepada Silyia memang seringkali berhubungan dengan benda-benda panas, seperti rokok, korek api dan air panas, hal ini sepertinya dipicu oleh kenangan pahit Gertrude akan kekasihnya Dennis yang menyulut rokok di lehernya.

        Anak-anak Gertrude dan anak-anak tetangga mulai melakukan penyiksaan dengan membakar Silvya dengan rokok dan korek api. Suatu hari Paula Baniszewski sampai mematahkan tangannya saat memukul Silvya, dengan bangga dia berkata kepada dokter bahwa alasan patah tangannya karena memukul seseorang. Hobi favorit beberapa anak di daerah itu adalah menyiksa Silvya: menendang, memukul, membalikkan badannya dengan trik judo Coy Hubbard atau menirunya, dan membakarnya.


        Hasil otopsi menunjukkan dua hal yang menunjukkan seberapa besar penderitaan yang dialami Silvya, kuku-kuku jarinya patah ke belakang dengan cara mencakar yang menyakitkan dan bibir bawahnya tergigit dalam-dalam hingga putus. Sepertinya Silvya lakukan itu untuk sekuat tenaga menahan sakitnya penyiksaan.

      Penganiayaan terhadap Silvya makin memburuk, penganiayaan menjadi semakin bersifat seksual. Yang dimaksud seksual disini bukanlah pemerkosaan yang mungkin kita bayangkan, namun seperti tendangan super kejam dari Gertrude ke selangkangan Silvya. Nampaknya Gertrude takut dianggap mesum karena dia sering menuduh Silvya melakukan seks bebas.


       Otopsi menunjukkan adanya pembengkakan yang parah pada daerah genital Silvya Likens akibat tendangan-tendangan tersebut, namun tidak ada luka robek pada vagina dan sisa cairan lekaki seperti pemerkaosan.  Silvya dianggap sebagai bahan lelucon yang kelewatan oleh Gertrude, anak-anaknya dan bocah2-bocahyang ikut menyiksanya.

Semakin Brutal

        Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, Silvya pernah menjual botol2 bekas untuk mendapat uang dan beli camilan, lalu pada suatu hari ada yang memprovokasi Gertrude bahwa, di awal masa tinggal  Sylvia memiliki sedikit uang tambahan: tapi Gertrude yakin kalau sylvia itu pasti mencuri atau melacurkan diri. Topik ini menjadi pemicu Gertrude menyiksa Silvya dengan botol, bagaimana caranya ? ketika beberapa anak berada di rumah Gertrude, Gertrude memaksa Silvya yang sedang menangis untuk melakukan striptis di depan mereka. Ketika Silvya telanjang bulat, dia menyuruh Silvya memasukkan botol minuman ringan ke dalam vaginanya. Stephani bahkan memukul Silvya saat kejadian ini berlangsung.


    Karena penyiksaan yang diterima Silvya dan kecemasan psikologis, ia menjadi sulit menahan kencingnya. Saat Silvya mengompol di suatu malam di bulan Oktober, sejak saat itu Gertrude memutuskan Silvya tidak bisa tinggal bersama dengan keluarganya di kamar dan akhirnya Silvya tinggal di bawah tanah bersama anjing, seakan tidak puas, bahkan Paula menghukum Sylvia karena mengompol dengan melarangnya menggunakan toilet, sehingga Silvya terpaksa tinggal dengan kotorannya.

 basement

        Karena Sylvia dianggap kotor, mereka memandikan Silvya dengan air panas mendidih, Paula bahkan tega mengusapkan garam ke luka-luka Silvya. Kejadian ini kadang dibantu oleh anak tetangga berkaca mata tebal yang bernama Richarcd Hobbs atau Ricky.

Dipaksa Kelaparan

        Di sisa hidup Silvya, ia diperlakukan tidak manusiawi, Silvya sering dibiarkan telanjang atau hampir telanjang selama berhari-hari. Dia menjadi bahan permainan bagi anak-anak tetangga untuk dinikmati dengan dibakar, ditinju, dan mendorongnya menuruni tangga menuju ruang bawah tanah, lalu memaksanya naik kembali hanya untuk melemparkannya kembali ke bawah. Sedih menceritakan ini membayangkan kejam perlakuan orang gila itu pada Silvya tanpa Silvya bisa melawan.


        Untuk mengisi perutnya, Silvya diizinkan naik dari ruang bawah tanah dan disuruh mencoba makan sup dengan jari-jarinya tanpa bantuan sendok. Dan ketika ia mencoba makan, John merebut sup dengan tengilnya. Kemudian, Gertrude dan John memaksa gadis itu untuk makan kotoran dan minum air seni.

The Likens Disembunyikan

        Pada September Sylvia dan Jenny pernah bertemu kakak mereka Diana dan menceritakan penderitaan mereka. Sayangnya Diana menggap hukuman itu terjadi karena adik-adiknya nakal. Namun pada bulan Oktober akhirnya Diana penasaran, Diana pernah mencoba menjemput Silvya dan Jenny ke rumah Gertrude, namun ditolak dengan alasan Lester dan Betty sudah menitipkan Silvya pada Gertrude. Diana juga diancam bahwa jika Diana memaksa Polisi akan menangkapnya.

        Selain itu Seorang gadis berusia dua belas tahun bernama Judy Duke menceritakan pada ibunya tentang kondisi Silvya ketika Ny. Duke sedang mencuci piring. "Mereka memukuli dan menendang Silvya dengan kasar," kata gadis itu. Dan respon ibu Judy Duke hanya "Oh, mereka hanya menghukumnya, bukan?" Ny. Duke bertanya.


        Pendeta Roy Julian pernah 2 kali mencoba mengunjungi semua anggota jemaatnya yang ada di Keluarga Baniszewski pada bulan September. Pendeta hanya bisa bertemu dengan Gertrude yang caper menceritakan keluh kesahnya tentang masalah anak-anak dan dia bilang Silvya adalah anak nakal, dengan nada ngeri Gertrude bilang pada pendeta "Silvya telah membolos sekolah dan melakukan pendekatan kepada pria-pria yang lebih tua - demi uang!" dan menuduh Silvya telah memfitnah Paula hamil.


        Tentu saja Pdt. Julian tikda langsung percaya karena seingatnya, Silvya adalah gadis cantik yang baik.  Pdt. Roy tidak diberikesempatan untuk berbocara dengan Silvya ataupun Jenny. Jennypun diancam untuk tutup mulut dan dicekoki kebohongan bahwa Silvya   suka berbohong. Jenny terpaksa memercayai itu untuk menyenangkan hati Gertrude, semata-mata agar Gertrude tidak menyiksa Silvya lagi.

Hampir Diselamatkan

        Sebuah badan kesehatan masyarakat telah menerima laporan tentang seorang gadis yang menderita luka terbuka di rumah Baniszewski. Petugas kesehatan masyarakat  datang ke rumah tersebut pada tanggal 15 Oktober ke rumah Banizewski. Gertrude mengatakan bahwa anak yang dimaksud adalah anak nakal bernama Silvya yang sudah di usir pergi dari rumah. Jenny ada di ruangan itu pada saat itu, takut pada Gertrude tidak bisa berbuat apa-apa. 


        Sedihnya Petugas dan Gertrude saat itu, duduk tepat di atas ruang bawah tanah tempat Sylvia dikunci dan diikat. Karena laporan bohong itu Perawat itu kembali ke kantornya. Di sana ia melaporkan tentang Baniszewskis dengan kartu "satu kali saja", yang berarti tidak akan ada tindak lanjut.


    Lima hari sebelum kematian Sylvia, polisi mendatangi kediaman Gertrude, atas laporan Gertrude. Untuk apa ?  Seperti yang dilaporkan oleh John Dean/Natty Bumppo, Gertrude melaporkan bahwa Robert Bruce Hanlon, menggedor pintu rumah Gertrude pada malam itu, menuntut pengembalian beberapa barang yang menurut Robert telah dicuri oleh anak-anak dari ruang bawah tanah Gertrude. Gertrude mengatakan kepada Robert bahwa dia mengetuk pintu yang salah. Gertrude menelepon polisi, mengatakan bahwa dia telah menemukan Hanlon mencoba masuk rumah tanpa izin. Lalu  Polisi memenjarakan Hanlon dengan tuduhan pencurian. Namun Hanlon terselamatkan oleh pasangan Vermillion. Vermillion menjelaskan kejadian sebetulnya dan akhirnya Hanlon dibebaskan. Tapi mengapa Phylis dan Ray vermillion tidak memberi tahu polisi, saat sebelumnya ia melihat penganiayaan keluarga Gertrude terhadap Silvya.

Menuju Akhir Hidup

        Pada pekan terakhir dalam hidup Silvya, Gertrude  memutuskan untuk mengizinkan Sylvia  tidur di tempat tidur di lantai atas lagi, dengan syarat yang aneh: Gertrude menginstruksikan John, Coy, dan Stephanie untuk mengikat Sylvia di tempat tidur agar ia tidak bisa bangun di malam hari untuk pergi ke kamar mandi. Dia blang "Kamu tidak boleh ke kamar mandi," kata Gertrude, "sampai kamu belajar untuk tidak mengompol." Dan Silvya mengompol malam itu.


          Keesokan paginya Gertrude masih tega menyiksa Silvya dengan memerintahkan Silvya untuk kembali melakukan striptis paksa yang kedua dan  puncaknya Gertrude memaksa lagi Sylvia memasukkan botol soda ke dalam alat kelaminnya. Saat penyiksaan berlangsung, gertrude memutuskan untuk membalas dendam pada Sylvia karena telah memfitnah Paula dan Stephanie sebagai pelacur. "Anda telah mencap putri-putri saya, maka giliran saya akan mencap Anda!" katanya. Yang Gertrude maksud cap ini adalah tatto amatir yang dibuat anak-anak di perut Silvya. Gertrude mengawali dengan membuat huruf I menggunakan jarum yang di bakar lalu dia menyuruh Ricky Hobbs dan Shirley untuk melanjutkan 


        Selama proses itu Sylvia ditelanjangi secara paksa, lalu diikat, dan disumpal. Ricky, Paula, dan Shirley Baniszewski yang berusia sepuluh tahun memutuskan untuk memberi merek lain pada Sylvia, yaitu huruf "S" untuk Sylvia atau budak (Slave), namun berkahir menjadi angka a angka "3" muncul di dada Sylvia. Jenny sempat melihat dan dipaksa ikut menato tubuh Sylvia, dia terkejut mematung dan menolak walau akhirnya Jenny menerima pukulan


        Akhirnya tato amatir paling kejam rampung dengan tulisan " I'M A PROSTITUE AND PROUD OF IT " ATAU "SAYA SEORANG PELACUR DAN SAYA BANGGA AKAN HAL ITU!" dan tato angka 3 yag seharusnya S.

 Kondisi perut Silvya Likens

        Dalam keadaanyang menyedihkan, Gertrude masih tega mengejek Sylvia di depan Randy Lepper, Shirley Baniszewski, Richard Hobbs, dan Jenny Likens, Sylvia hanya bisa menagis dan pasrah. 


        Setelah penatoan itu, Silvya kembali diturunkan ke ruang bawah tanah di mana Coy Hubbard kembali menyiksanya. Hari itu Silvya sudah pada puncak penderitan dan penyiksaan batinnya, lalu Jenny mengunjunginya, Silvya mengatakan kepada Jenny: "Aku akan mati. Aku tahu. Malamnya Silvya diizinkan untuk tidur di lantai kamar atas dia dimandikan oleh Gertrude dan Stephanie; namun, ini adalah mandi air hangat yang normal, bukan mandi air panas.

Surat Perpisahan

        Seakan tahu, Gertrude menyiapkan sebuah rencana alibi jika ada hal yang tidak diinginkan terjadipada Silvya. Gertrude memaksa Silvya untuk menulis surat formal pada orang tuanya. Begini bunyi suratnya : 

Kepada Tuan dan Nyonya Likens:

        Saya pergi dengan sekelompok anak laki-laki di tengah malam. Dan mereka berkata bahwa mereka akan membayar saya jika saya mau memberikan sesuatu kepada mereka, jadi saya masuk ke dalam mobil dan mereka semua mendapatkan apa yang mereka inginkan... dan setelah selesai, mereka memukuli saya dan meninggalkan luka-luka di wajah dan sekujur tubuh saya.

Dan mereka juga menindih perut saya, saya adalah seorang pelacur dan saya bangga akan hal itu.

        Saya telah melakukan hampir semua hal yang dapat saya lakukan hanya untuk membuat Gertie marah dan memberikan Gertie lebih banyak uang daripada yang dia punya. Saya telah merobek kasur baru dan mengencinginya. Saya juga telah membebani Gertie dengan tagihan dokter yang tidak bisa dia bayar dan membuat Gertie dan semua anak2nya menjadi gelisah . 


        Silvya sempat akan dubuang ke tempat sampah oleh Gertrude. Namun, sebelum mereka sempat melakukannya, Silvya berusaha melarikan diri. Gadis yang hancur dan lemah itu berlari ke pintu depan. Namun gagal karena Gertrude berhasil menangkapnya tepat ketika Silvya hampir sampai di teras. Kemudian Gertrude menyeretnya ke dapur dan menawari Silvya itu roti panggang namun Silvya sudah tidak sanggup makan, dan berakhir dengan Gertrude memukul mulutnya dengan batang gorden.

Akhir Hidup Silvya

        John Baniszewski yang berusia dua belas tahun mengikat Sylvia di ruang bawah tanah. Di basement Gertrude memberi Silvya biscuit, Rupanya, ia tidak ingin Silvya ketahuan mati kelaparan. Apa yang Gertrude harapkan dengan semua siksaan itu?


        Tidak disangka Sylvia bereaksi dan mengatakan "Berikan pada anjing itu," kata Silvya pada Gertrude, "Dia lebih lapar daripada saya." Mungkin Silvya merasa tidak punya apa-apa lagi. Dia kehilangan harapan hidup, karena itu ia menantang. Lalu Gertrude berulang kali meninju perut Silvya.


        Hari berikutnya adalah hari Minggu, 24 Oktober 1965. Gertrude dan John memukuli Silvya. Gertrude mengayunkan kursi ke arah Silvya namun kursi itu patah sebelum mengenai Silvya. Kursi patah diganti dengan dayung, namun malah mengenai Gertude sendiri, membuat matanya menghitam. Sepertinya kursi dan dayung pun sudah menolak terlibat dalam penyiksaan itu. Kemudian Coy Hubbard datang dan memukul kepala Sylvia dengan sapu, membuatnya pingsan.


        Pada malam harinya, Silvya berulang kali menggedor-gedor lantai penjara bawah tanahnya dengan sekop; para tetangga merasa terganggu dan mempertimbangkan untuk menelepon polisi untuk mengadukan kebisingan tersebut, namun tidak terjadi.


        Keesokan harinya, Silvya dibawa ke lantai atas untuk mandi terakhir yang normal tidak menyiksa. Dia ditempatkan di dalam bak mandi dalam keadaan telanjang. Saat dikeluarkan dari bak mandi, Stephanie dan Ricky menyadari bahwa Sylvia tidak bernapas. Stephanie berusaha memberikan CPR dari mulut ke mulut kepada Silvya. Namun tidak ada gunanya. 


        Setelah mengetahui Silvya tidak bernafas lagi, sudah pasti Gertrude bingung, ia menyuruh Ricky untuk menelepon polisi. Dia harus pergi ke telepon umum karena rumah Gertrude tidak memiliki telepon. Ketika polisi tiba di rumah itu, Gertrude yang panik menyerahkan surat yang sudah ditulis Silvya dibawah tekanan. Namun, sebelum petugas sempat membacanya, Jenny Likens yang sedang berduka dan ketakutan berbisik kepada Polisi, "Keluarkan aku dari sini dan aku akan menceritakan semuanya."

Gertrude dan Gerombolan Diadili

        Gertrude Baniszewski (begitu pihak berwenang memanggilnya dengan nama aslinya setelah mengetahui bahwa ia tidak menikah secara sah dengan Dennis Wright) ditangkap atas tuduhan pembunuhan. Begitu pula Paula Baniszewski, Stephanie Baniszewski, John Baniszewski, Richard Hobbs, dan Coy Hubbard. Remaja yang lebih muda, Anna Siscoe, Judy Duke, Randy Lepper, dan Mike Monroe, didakwa atas tuduhan "melukai orang." Sebagian besar dari anak anak dengan mudah mengakui tindakan mereka tetapi ketika dimintai penjelasan, mereka menyerahkannya kepada Gertrude, mereka  memberikan alasan, "Gertie yang menyuruh saya. Untuk para tersanka anak-anak dikenai tuduhan melukai orang. Pengacara Stephanie Baniszewski mendapatkan persidangan terpisah dan kemudian tuduhan pembunuhan terhadapnya juga dibatalkan.


        Yang diadili atas pembunuhan tingkat pertama dalam kasus paling sensasional di Indiana ini adalah lima orang: satu orang dewasa, Gertrude Baniszewski dan empat anak di bawah umur, Paula Baniszewski, John Baniszewski, Richard Hobbs, dan Coy Hubbard. John baru saja berusia tiga belas tahun.


        Ingat kan paula sedang hamil saat penyiksaan, pada Waktu Paula bersikeras  ia tidak hamil. Ternyata akhirnya Paula melahirkan bayi perempuan. Sebagai tanda bakti, Paula menamai anaknya Gertrude.

 Gertrude dan Richard Hobbs di Pengadilan

        Ruang sidang penuh sesak dengan penonton setiap hari. Ini adalah pembunuhan tunggal terburuk yang pernah diketahui negara dan jumlah terdakwa terbesar yang pernah diadili sekaligus. Pihak penuntut menuntut hukuman mati untuk semua terdakwa dan mereka yakin dalam kasus Ny. Baniszewski  CS mereka akan dihukum mati dengan kursi listrik.

 Situasi Pengadilan

        Bertahun-tahun kemudian, John Baniszewski mengatakan kepada seorang reporter bahwa dia sangat menikmati proses persidangan. Dia berkomentar, "Saya merasa senang dengan hal itu. Apa yang sebenarnya saya inginkan adalah cinta, tetapi saya malah mengambil perhatian.


        Saksi utama untuk penuntutan adalah Jenny Likens, dengan suara yang kadang tegas, kadang tersendat-sendat, dan sering kali tersedak air mata, ia merinci kengerian yang ia dan saudara perempuannya alami. Ketika Wessner dengan lembut bertanya kepadanya mengapa dia tidak mencari bantuan, Likens muda menjawab, "Saya takut. Gertrude terus memukuli saya. Dan memperlakukan saya seperti dia memperlakukan Sylvia"


      Nyonya Baniszewski Dengan tegas ia menyangkal semua tindakan buruk yang dituduhkan kepadanya. Dia malah menyalahkan Sylvia yang jelas adalah korban sesungguhnya. Ia bercerita awal Kisah tentang bagaimana dia pertama kali mendengar tentang Sylvia adalah ketika, seorang gadis datang ke rumahnya mencari Darlene MacGuire, dan Silvya Likens. Bahkan Gertrude menyangkal telah menyetujui merawat titipan Lester Likens itu ketika katanya Silyia sendiri yang meminta untuk tinggal bersama the Banizeswski.


        Sementara Marie bersaksi bahwa dia hanya melihat ibunya memukul Sylvia ketika saat dia sedang nakal. Dia kemudian bersumpah bahwa dia tidak pernah melihat ibunya menendang gadis itu, membakarnya, atau memperlakukannya dengan cara apa pun. Tapi Marie telah melihat anak-anak lain melakukan semua hal itu, saat Ibunya tidak ada di rumah atau ketika sedang sakit di tempat tidur.


       Pengacara-pengacara pembela lainnya mencoba untuk melemparkan kesalahan sebanyak mungkin kepada Gertrude dan yang lainnya, sambil memohon bahwa usia klien mereka yang masih muda membuat mereka tidak bertanggung jawab sepenuhnya.


    Ketika vonis dijatuhkan, hanya Gertrude Baniszewski yang dinyatakan bersalah atas pembunuhan tingkat pertama. Yang mengejutkan dan memprihatinkan banyak pengamat, juri tidak menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Ia mengajukan banding dan mendapatkan pengadilan baru di mana ia kembali divonis bersalah atas pembunuhan tingkat pertama dan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.


    Paula dihukum karena pembunuhan tingkat dua. Dia mengajukan banding dan mendapatkan persidangan baru namun gagal karena mengaku bersalah atas pembunuhan tidak disengaja. Dia dibebaskan setelah beberapa tahun. Tuduhan pembunuhan terhadap Stephanie Baniszewski dibatalkan, demikian pula tuduhan melukai orang lain terhadap Anna Siscoe, Judy Duke, Randy, Lepper, dan Mike Monroe. John Baniszewski, Coy Hubbard, dan Richard Hobbs dihukum atas tuduhan pembunuhan. Masing-masing menghabiskan total delapan belas bulan di fasilitas penahanan remaja.

Pembebasan Bersyarat Gertrude

        Pada tahun 1985, setelah menjalani hukuman selama dua dekade di Penjara Wanita Indiana, dewan pembebasan bersyarat memilih untuk memberikan pembebasan bersyarat kepada Gertrude Baniszewski. Namun, pengadilan memutuskan bahwa sidang dewan tersebut tidak terbuka untuk umum dan pemungutan suara baru harus dilakukan. Tentu saja untuk menghindari reaksi tak setuju dari pihak lain atas pemerian pembebasan bersyarat kepad  Gertrude.    

        Meskipun ada protes, pembebasan bersyarat disetujui. Perilaku Baniszewski sebagai seorang tahanan cukup baik. Dalam persidangan, Baniszewski sering menangis dan menyatakan penyesalannya, namun ia mengaku amnesia atas kejahatan tersebut. 


        Setelah bebas bersyarat, pelaku penyiksaan dan pembunuhan itu pindah ke Iowa di mana dia menjalani hidupnya dengan nama Nadine Van Fossan. Seorang perokok berat sejak lama, dia meninggal pada tahun 1990 karena kanker paru-paru.


        Silvya kini sudah tenang namun perjalanan 3 bulan terakhir hidupnya yang pahitBahkan di kondisi tersiksa Silvya masih mengharapkan keselamatan bagi adiknya dan menyerahkan dirinya pada penyiksaan Gertrude dan gerombolannya. Semoga tidak adalagi kejadian seperti ini di mana pun. Kisah SIlvYa Likens ini, bisa Readers simak di video Youttube berikut :